Sabtu, 09 Maret 2013

Seorang Pemuda Tunanetra Lulus SMPTN


Ginanjar bersama keluarga

Pada tahun 2007 adalah sebuah awal yang sedih bagi kehidupan seorang pemuda bernama Ginanjar Rohmat,. Pada saat itu dia harus mengubur cita-citanya untuk lulus SMA, padahal hanya tersisa 1 semester lagi untuk lulus. Ginanjar harus rela mengundurkan diri dari sekolahnya di SMAN 1 Wonosari akibat kebutaan yang menimpa kedua matanya.
Kejadiannya berawal pada saat Ginanjar duduk dikelas 1. Ketika itu dirinya terkena bola saat bermain bersama teman-temannya, akibat insiden tersebut sehingga membuat mata kanannya kabur penglihatannya pada saat dirinya berada dikelas 2. Saat itu Ginanjar dirujuk ke salah satu rumah sakit di Yogyakarta untuk dioperasi. Oleh dokter, Ginanjar divonis menderita ablasi retina, yakni terlepasnya syaraf mata dari lapisan di bawahnya akibat adanya cairan yang tertimbun di antaranya karena ada robekan retina. “Malangnya, operasi tersebut dapat dikatakan kurang berhasil karena memang sudah cukup parah. Akibatnya mata kanan saya buta,” ujar Ginanjar.
Tragisnya, setelah kehilangan penglihatan dimata kanannya, Ginanjar juga harus merelakan kebutaan pada mata kirinya pada saat dirinya masuk kelas 3. Karena kehilangan penglihatan di kedua belah matanya ini membuat Ginanjar harus merelakan mengundurkan diri dari sekolah, padahal pada masa  itu hanya tersisa 1 semester lagi untuk lulus.
Putra keempat dari pasangan Pono Sumarjo dan ibu Marsinah ini, menghabiskan dua tahun hidupnya dengan hanya mengurung diri di rumah karena merasa sangat terpuruk dan tertekan. Marsinah, sang ibu yang juga buruh tani, tak putus menyemangati Ginanjar. Kesabaran ibunda berbuah, Ginanjar mulai bersosialisasi dengan tetangga, belajar bermain gitar, serta belajar menulis dan membaca huruf braille.
Semangat pria kelahiran Gunung Kidul, 29 September 1989 ini bangkit ketika tetangganya penyandang tuna ganda mengajak Ginanjar mengikuti sosialisasi pendirian sekolah luar biasa (SLB) di desanya, Desa Karangasem, Kecamatan Palihan, Kabupaten Gunungkidul. Ginanjar pun bertekad untuk melanjutkan sekolah di SLB. Pada 2011, dia melanjutkan studi di SLB Krida Mulya II Paliyan.
Memang pada dasarnya Ginanjar adalah seorang siswa yang cerdas, di sekolah barunya Ginanjar pun mengukir berbagai prestasi. Dia pernah menjadi finalis lomba mengarang dan bercerita tunanetra tingkat nasional di Makassar. Ginanjar pernah juga memboyong gelar juara pertama dan uang Rp 6 juta dari ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika untuk tunanetra, 2012. Bahkan, di tahun yang sama, Ginanjar lulus SNMPTN dan seleksi Bidik Misi. Dia kini menempuh studi di Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).Selasa (5/3/2013) laman UNY melansir, Ginanjar mencatatkan prestasi di kampus. Pada semester pertama, dia membukukan nilai IPK 3,48. Menurut Ginanjar, pilihan jurusannya sangat menarik mengingat selama ini dia belum pernah mendengar jurusan Pendidikan Luar Biasa.
“Setelah kuliah di sini saya merasa gembira karena saya ingin mengabdikan ilmu yang saya miliki demi sebuah pendidikan ideal untuk anak berkebutuhan khusus,” ujar Ginanjar.
Sebuah pelajaran yang sangat berharga telah Ginanjar ajarkan kepada kita, yakni "keterbatasan bukan menjadi halangan untuk maju dan berkembang". (rk)

Sumber: kampus.okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar